Kambing Liar Menjadi Makanan Manusia Es

Kambing Liar Menjadi Makanan Manusia Es

Misteri Oetzi sedikit demi sedikit terkuak. Yang terbaru, menu makan si manusia es ternyata cukup berimbang, antara daging dan makanan berserat. Meski begitu, menu sehari-hari lebih didominasi makanan mengandung lemak tinggi. Kesimpulan itu ditarik oleh para peneliti setelah mengambil sampel sisasisa makanan dari perut Oetzi, jasad pemburu yang membeku di dalam es selama 5.300 tahun di Pegunungan Alpen. Dari sampel tersebut para peneliti juga dapat mengetahui jenis makanan apa saja yang dimakan manusia Eropa pada zaman purba. Dalam menu makan Oetzi, seperti yang ditulis dalam jurnal Current Biology pekan lalu, terdapat lemak daging kambing liar, daging rusa merah, dan biji gandum. Makanan tersebut dipercaya merupakan menu makan terakhir Oetzi sebelum meninggal Selain itu, para ilmuwan menemukan sisa daun-daunan mentah dan serbuk bunga di dalam perut Oetzi. Diduga dedaunan tersebut termakan secara tidak sengaja atau sebagai bahan obat untuk membunuh parasit yang sebelumnya ditemukan dalam ususnya. “Sangat mengagumkan,” kata pemimpin penelitian Frank Maixner, ahli mikrobiologi dari Institute for Mummy Studies di Bolzano, Italia. “Secara jelas kami dapat melihat potongan maupun irisan makanan tersebut dengan mata telanjang,” katanya.

Sebelumnya, para peneliti telah menganalisis isi usus besar Oetzi. Namun inilah untuk pertama kalinya mereka melihat ke dalam perut Oetzi secara utuh. Alasan mengapa baru kali ini mereka membedah isi perut Oetzi adalah posisinya yang terlihat aneh. Setelah Oetzi meninggal, rupanya bagian perutnya naik ke atas dan tertutup tulang iga. Baru pada 2009, 18 tahun setelah jasad Oetzi ditemukan dekatperbatasan Italia dan Austria, para ahli radiologi menemukan sisa makanan itu tertutup tulang iga. “Banyak makanan di dalamnya,” kata Maixner. Setelah mencairkan jasad yang membeku itu, para ilmuwan lantas mengambil sampel makanan di dalam perut Oetzi dan mengeringkannya. Hampir separuh isi perut mengandung lemak ibex, kambing liar yang hingga kini masih hidup di Pegunungan Alpen. “Kondisi lingkungan saat itu sangat keras,” ucap Maixner yang terpaksa harus mendaki gunung bersalju dan melawan suhu dingin untuk mencapai posisi jasad Oetzi ditemukan. “Mereka pasti sudah menyiapkan diri untuk perjalanan berat itu. Mereka harus membawa bekal untuk mempertahankan hidup.” Albina Hulda Palsdottir, arkeolog dari University of Oslo, meyakini penemuan terbaru ini akan sangat berharga. “Mereka menggunakan semua kemungkinan untuk menjawab pertanyaan amat penting ini, apa sebenarnya yang menjadi makanan utama orangorang zaman purba itu,” ucap Palsdottir. Kini, Maixner dan timnya berharap dapat merekonstruksi komposisi bakteria dan mikroorganisme lainnya yang ada dalam usus si manusia es ini. Mereka ingin mengetahui apa saja perbedaannya dengan manusia modern. “Oetzi selalu menarik untuk diteliti,” kata Hulda Palsdottir. “Dia sudah banyak bercerita kepada kita.”

Leave a Reply